
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil mengembangkan lima prototipe inovatif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mendeteksi kanker secara dini. Langkah ini menjadi terobosan signifikan dalam bidang kesehatan digital di Indonesia.
Kelima prototipe tersebut dikembangkan oleh tim peneliti UMY dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) serta Fakultas Teknik. Setiap prototipe memiliki fokus deteksi pada jenis kanker yang berbeda, mulai dari kanker serviks, kanker payudara, hingga kanker paru.
Rektor UMI, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., menyatakan bahwa pengembangan AI ini merupakan wujud kontribusi nyata universitas dalam menjawab tantangan kesehatan nasional. “Kami berharap prototipe ini dapat diintegrasikan ke dalam sistem layanan kesehatan di Indonesia, sehingga deteksi dini kanker menjadi lebih mudah, cepat, dan terjangkau,” ujarnya dalam konferensi pers.
Peneliti utama proyek, Dr. dr. Sri Sundari, M.Kes., Sp.PK., menjelaskan bahwa masing-masing prototipe menggunakan algoritma machine learning yang dilatih dengan ribuan data citra medis. “Teknologi ini mampu menganalisis pola sel abnormal dengan akurasi tinggi, bahkan pada tahap awal perkembangan kanker,” tambahnya.
Salah satu prototipe yang paling menonjol adalah sistem deteksi kanker serviks yang menggunakan analisis gambar hasil Pap smear. Dengan tingkat akurasi mencapai 95%, sistem ini diharapkan dapat mengurangi angka kematian akibat kanker serviks yang masih tinggi di Indonesia.
Selain itu, prototipe untuk deteksi kanker payudara memanfaatkan data mammogram dan ultrasonografi (USG) untuk mengidentifikasi tumor ganas secara otomatis. Tim peneliti juga mengembangkan sistem deteksi kanker paru yang mampu membaca hasil CT scan dengan presisi tinggi.
Ke depannya, UMY berencana untuk melakukan uji klinis terhadap kelima prototipe ini di beberapa rumah sakit mitra. Jika hasilnya memuaskan, teknologi tersebut akan dipatenkan dan siap diproduksi massal untuk digunakan di fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
Langkah UMY ini sejalan dengan program pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di sektor kesehatan, khususnya dalam upaya menurunkan angka kematian akibat kanker yang mencapai lebih dari 200.000 kasus per tahun di Indonesia.
